Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Sejarah » Gosong Telaga Aceh Singkil

Gosong Telaga Aceh Singkil

(374 Views) September 23, 2018 3:52 pm | Published by | No comment

Gosong Telaga, Desa Teladan di Aceh Singkil.

oleh : Sadri Ondang Jaya.

pantai gosong telaga

Berlayar di Lautan Indonesia
Ceruk teluk sulur cahaya
Julur wajah selengkung sungai
Terbentang daratan
Gosong Telaga namanya

Gosong Telaga cantik rupawan
Pemukimannya bersih nan menawan
Ramah tamah adat nagari
Sopan santun hiasan diri

Menjulang angan ke ranting awan
Gelegas rindu selaksa harap
Gosong Telaga jadi kota beriman
Tempat menggalas hidup masa depan

Gosong Telaga
tempat bersujud
Sebelum badan merengkuh wujud.

**
Apabila kita beranjangsana ke Aceh Singkil, agaknya, kita belum puas dan lengkap kalau tidak singgah sebentar di kemukiman Gosong Telaga yang jaraknya hanya 20 kilometer dari pusat kota Singkil.

Betapa tidak, karena di ceruk teluk pesisir Pantai Pulau Sumatera itu terdapat Pantai Cemara Indah Gosong Telaga dan perkampungan kembar tiga atau village twins three. Yaitu, Kampung Gosong Telaga Utara, Gosong Telaga Selatan, dan Gosong Telaga Timur.

Kampung kembar tiga yang molek nan mungil ini, bila ditilik dari segi usia, yang lebih duluan ada, Kampung Gosong Telaga Utara. Sedangkan yang bungsu Gosong Telaga Timur.

Menurut catatan sejarah, pada tahun 1840, di zaman pemerintahan Hindia Belanda, Gosong Telaga adalah sebuah desa (distrik) yang berada dalam Onder afdeeling Singkil yang dikepalai oleh seorang Datuk yang bernama Mat Daud (Moge Ijo/Datuk Ijo).

Pada masa pendudukan Jepang tahun 1942, Gosong Telaga menjadi sebuah wilayah Komico (Datuk/mukim) dan Koco (desa), di bawa Sunco (kecamatan) Singkil. Datuk/Mukim yang pernah memimpin di Gosong Telaga masing-masing. Abu Hanifah/Buan,? M. Taeng, H. Patani, M. Wajir, M. Zubir Tanjung. H. Rizwar Syam.

Sementara kepala Koco/kepala desa yang pernah menjabat semasa Jepang dan awal-awal kemerdekaan adalah Abdul Manan dan M. Ilyas.

Tahun 1970-an Desa Gosong Telaga ini dimekarkan menjadi dua desa. Yaitu Desa Gosong Telaga Utara dan Desa Gosong Telaga Selatan. Dua desa ini dilingkupi oleh satu kemukiman yang diberi nama Kemukiman Gosong Telaga. Kepala Desa Gosong Telaga Utara adalah, M. Tindik. Kepala Desa Gosong Telaga Selatan, M.Rani. Sedangkan kepala Mukimnya, M. Zubir Tanjung.

Saat kemukiman Gosong Telaga ini di kepalai oleh Kepala Mukim M. Zubir Tanjung tahun 1972 atau bertepatan dengan Hari Ulang Tahun RI ke-27, Gosong Telaga dianugerahi pemerintah sebagai desa teladan di Aceh. Keteladanan ini diraihnya, bukan saja karena ketertiban dan keamanan Gosong Telaga yang stabil tetapi juga karena kerukunan masyarakatnya. Kebersihan dan keindahan lingkungan pemukiman ini juga, sangat menonjol.

Dan Gubernur Aceh ketika H. Muzakir Walad yang menyerahkan piagam supremasi desa teladan dan terbersih tersebut kepada masyarakat Gosong Telaga yang diterima oleh Kepala Mukim H. Zubir Tanjung.

Menurut keterangan warga Rasuddin Marbun, di era tahun 60-an hingga tahun 70-an, di perkampungan Gosong Telaga ini susunan rumahnya tertata apik, menawan dan menarik. Jalan-jalan lebar yang kiri kanannya ditumbuhi tanaman hijau nan asri. Perkampungan ini terkenal sangat bersih, jarang kita temukan belukar yang menyemak.

Rumah penduduknya yang terbuat dari material kayu kapur, Melaka, simantuk, dan meranti umumnya berkonstruksi dan bermotif gaya Melayu klasik. Sehingga menyiratkan kebersahajaan. Sendinya dibuat agak tinggi dari permukaan tanah. Dengan demikian, tangga atau jenjang rumah-rumah di Gosong Telaga juga tinggi. Terbuat dari kayu (tidak dari semen seperti sekarang).

Menariknya, tangga rumah ini dibuat sedemikian rupa dengan tiga anak jenjang. Tiga anak jenjang ini punya falsafah yang dalam. Jenjang pertama, langkah, gerakan yang menunjukan dinamika kehidupan atau keinginan untuk berusaha. Jenjang kedua, rezeki. Rezeki ini datang dari Allah SWT setelah melakukan serangkaian usaha. Sedangkan jenjang ketiga, pertemuan. Pertemuan atau jodoh ini juga diatur oleh Allah SWT.

“Kalau ada umur, mau berusaha akan mendapat rejeki, kalau sudah ada rejeki maka akan mudah bertemu, kesemua itu sudah ditentukan Tuhan Yang Mahakuasa,” demikian dijelaskan Ibu Latifah (68 tahun) seorang warga, tentang filosofi tangga rumah di Gosong Telaga ini.

Bukan itu saja, di era tahun 50-an hingga 70-an di depan rumah-rumah terdapat taman yang dihiasi beraneka macam bunga dan pohon pelindung yang membuat suasana kampung itu semakin teduh, rindang, asri, dan sejuk. Ramah lingkungan.

Tentang penataan Kemukiman Gosong Telaga ini, Muzakkir Walad Gubernur Aceh tahun 1972 yang ke Gosong Telaga memberikan apresiasi yang tinggi dan berkomentar, “Melihat Gosong Telaga seperti melihat miniaturnya kota Paris. Ibu kotanya Perancis,” begitu ungkap sang Gubernur karena saking takjubnya kepada Gosong Telaga.

Begitu tertariknya Muzakkir terhadap Gosong Telaga membuat duplikat Gosong Telaga ini di kampung halamannya, Montasik, Aceh Besar.

Keunikan lain, meskipun kemukiman penghasil ikan ini wilayahnya kecil. Namun penduduknya heterogen. Ada etnis Batak, Aceh, Minang, Singkil Hulu, dan Nias. Oleh sebab itulah penduduk kampung ini lebih dinamis, semarak, dan menakjubkan.

Tentang keanekaragaman etnis di Gosong Telaga ini, ternyata bukanlah suatu hambatan dan membuat di kemukiman ini acap terjadi konflik. Justru kepluralan etnis tersebut, menyimpan keunikan tersendiri dan merupakan kohesi sosial dalam menjalankan hidup dan kehidupan di Gosong Telaga

Pembauran etnis dan kultur sudah mengkristal sejak lama. Kawin silang antar etnis sudah kelaziman. Bahkan, perkawinan antar saudara pun (asal tidak bertentangan dengan ajaran agama) kerap dilaksanakan.

Sehingga tidak heran, di Gosong Telaga antara keturunan dan etnis yang satu dengan yang lain bersangkut paut alias berfamili. Orang-orang kampung sering mengatakan masyarakat Gosong Telaga ibarat seperangkat jala. Jaringnya lebar, kuat berangkai. Tapi terajunya hanya satu. Hal ini pulalah yang menjadikan tutur sapa (baso) di Gosong Telaga sangat familiar, teratur, sopan dan akrab.

Pembauran kultural, bahasa misalnya, masyarakat Gosong Telaga, umumnya menggunakan bahasa aneuk jame atau bahasa Minang sedikit beraksentuasi atau berlogat Batak. Adat istiadatnya pun, nampaknya proses asimilasi dari berbagai rumpun adat yang ada. Adat Aceh tidak ketinggalan, adat Pesisir Melayu pun nampak.

Di sini jelas, telah terjadi akulturasi budaya yang nyaris sempurna. Miniatur Bhineka Tunggal ika, agaknya berwujud di Kemukiman Gosong Telaga ini. Sehingga tersimpul dalam satu kata Gosong Telaga beradatkan, Melayu Pesisir.

Pokoknya, kecantikan dan keelokan kemukiman ini tak terkira dan amat sempurna. Cantiknya, bak anak dara yang berdandan sedang duduk bersanding di pelaminan. Kulturnya, hasil kristalisasi yang sempurna dan paripurna. Menyiratkan kesan tersendiri.

Karena kesan itu pulalah, di era tahun 1973 Gosong Telaga kembali dinobatkan Pemerintah Pusat sebagai pemukiman terbaik dalam melaksanakan pembangunan dan menjaga keamanan dan ketertiban di Indonesia yang piagamnya diteken Ahmad Tahir, sebagai Komando Wilayah Pertahanan-1 Sumatera.

 

No comment for Gosong Telaga Aceh Singkil

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also likeclose