Menu Click to open Menus
Home » Sejarah » Fir’aun dan Singkil Kuno yang Tenggelam

Fir’aun dan Singkil Kuno yang Tenggelam

(854 Views) November 7, 2019 12:55 pm | Published by | No comment

firaun dan singkil lama

Kapal Raja Firaun berniaga hingga Singkil, kota kecil di pesisir barat daya Provinsi Aceh? Aku hanya ternganga mendengar penjelasan dari seorang kawan, bahwa kapal-kapal asal Mesir, ribuan tahun lalu sudah merapat ke Singkil untuk memborong kapur barus atau kamper. Bahan pengawet yang ditemukan pada mumi-mumi Raja Mesir kuno yang bergelar Firaun.

“Kenapa Firaun harus mencari kapur barus ke Singkil ini?” tanyaku.

“Lho, kapur barus atau pohon kamper hanya ada di Singkil dan Kalimantan. Dan konon yang terbagus ya di Singkil ini,” jawab kawanku tadi.

Tak percaya begitu saja, aku pun googling. Hasilnya, memang kutemukanbeberapa penggal kalimat yang menyebut kapal-kapal Raja Firaun telah berlabuh di pelabuhan Singkil, yang kini disebut sebagai Kabupaten Aceh Singkil, untuk membeli kapur barus atau kamper. Ternyata selain dipergunakan sebagai ramuan pengawet mumi, kapur barus juga manjur dijadikan racikan obat.

Kapur barus seperti kita kenal, bentuknya padat, transparan, berkilat, serta memiliki aroma menyengat. Jika dulu warnanya putih, kini mulai dikemas dan dijual di supermarket berwarna-warni. Kapur barus sejatinya berasal dari cairan pohon laurel kamper (cinnamomum camphora) yang dikeringkan dan diekstraksi. Dan benar saja, pohon laurel kamper ini menurut Wikipedia hanya tumbuh di Sumatera, Kalimantan dan Taiwan.

Lalu kenapa disebut kapur barus? Ternyata hanya berjarak sekitar 60 km – 80 km dari Singkil, jika ditarik garis lurus sepanjang bibir pantai arah selatan, terletak kota Barus. Tampaknya, baik Singkil maupun Barus, keduanya merupakan bandar besar di masa lalu. Saat ini, Barus masuk wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara.

Temuan yang tak lantas menghapus rasa takjubku. Bagaimana tidak, raja-raja Mesir yang bergelar Firaun hidup di sekitar 2.000 tahun sebelum masehi (SM) atau sebelum kelahiran Nabi Isa AS yang menjadi titik awal penghitungan tahun masehi. Sedangkan Nabi Musa yang harus menghadapi kedurjanaan salah satu Firaun, hidup di sekitar tahun 1527 SM – 1407 SM.

Nah, jika sekarang tahun Masehi masuk angka 2019, artinya Singkil sudah dilabuhi kapal-kapal niaga asal Mesir sekitar 4.000 tahun silam.

Pertanyaannya kemudian , pelabuhan seperti apa Singkil kala itu sehingga sudah dilabuhi kapal-kapal niaga dari Mesir? Pikiranku pun menerawang, tergambar sebuah kota pelabuhan besar yang ramai perniagaan.

Tiga Kali Dihajar Tsunami dan Gempa

Kisah yang beredar di Singkil sendiri, masyarakat meyakini bahwa nenek moyang mereka telah memiliki pelabuhan yang hebat. Pelabuhan antarbangsa yang didatangi orang-orang Eropa atau Asia lainnya.

“Bahkan ibuku bercerita, saat dia masih kecil, di Singkil ini sudah ada pertunjukan tonil Romeo and Juliet. Itu jaman Ibuku kecil lho Pak, bukan jaman aku kecil,” kata kawanku tadi sembari terbahak.

Kami pun mencoba menghitung dan ketemu sekitar tahun 1940 saat karya William Shakespeare itu ditonton ibu kawanku tadi di Singkil, sebuah kabupaten kecil dan miskin yang harus ditempuh 12 jam jalan darat dari Kota Banda Aceh.

Dan kisah itu tampak tak sekedar dongeng anak pengantar tidur, karena sebenarnya masih ada sisa-sisa kota Singkil yang tenggelam di Samudera Hindia. Bandar indah Singkil itu, sebut saja Singkil Kuno, tenggelam akibat bencana alam maha dahsyat yang bahkan tak tercatat penyebab dan kejadiannya.

Kalaupun ada kabar baik, Singkil Kuno yang tenggelam itu masih ada. Sayangnya belum tereksplorasi. Kita bisa mendatanginya dengan mempergunakan boat atau kapal kecil bermesin dari Kilangan Singkil dengan waktu tempuh sekitar  45 menit. Jika beruntung air sedang tenang, katanya Singkil Kuno bisa dilihat dari permukaan dengan mata telanjang.

Sejatinya jika merunut sejarah, begitu Singkil Kuno tenggelam, masyarakat yang selamat membangun kembali kehidupan baru di bibir pantai. Namanya pun tetap Singkil (sebut saja Singkil Lama). Kehidupan baru pun tumbuh dan berkembang di Singkil Lama.

Namun pada tahun 1883, saat Indonesia dijajah Belanda, Gunung Krakatau di Selat Sunda meletus dan menjadi bencana besar di seluruh dunia. Tak terkecuali Singkil Lama yang hancur disapu gelombang tsunami. Masyarakat setempat menyebutnya dengan ‘galoro’ yang tampaknya berasal dari kata gelora atau gelombang yang maha dahsyat.

Mereka yang selamat, sekali lagi kembali membangun kehidupan baru di seberang muara atau kuala. Inilah yang saat ini disebut sebagai Singkil. Sementara kota Singkil Lama, hingga kini masih menyisakan pondasi-pondasi rumah, pecahan gerabah atau keramik yang tercecer di antara hutan bakau yang tumbuh di bekas kota itu.

Kehidupan berjalan normal hingga 28 Maret 2005, saat terjadi gempa bumi Nias yang berkekuatan 8,7 Skala Richter. Gempa bumi yang dampaknya kembali mengusik kehidupan masyarakat Singkil. Daratan di pantai Singkil turun antara 0,5 meter hingga 1,5 meter.

Ribuan warga harus meninggalkan rumah yang ambruk atau pondasinya amblas. Pemerintah melalui Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Indonesia membangun pemukiman jauh dari bibir pantai bagi para korban. Pemukiman yang kini dikenal sebagai Perumahan BRR.

Terlepas dari tsunami dan gempa yang menghajar Singkil Lama akibat letusan Gunung Krakatau (1863) dan Singkil akibat gempa Nias (2005), pertanyaan masih mengganjal di benakku soal Singkil Kuno yang tenggelam tadi.

“Jangan-jangan Singkil Kuno ini Atlantis yang hilang itu?” pertanyaan gila yang belakangan jadi kerap muncul di otakku.

Bukankah sudah muncul Arysio Santos dengan teori Atlantis-nya? Atau Stephen Oppenheimer dalam bukunya ‘Eden In The East’ atau ‘Surga di Timur – Benua yang Tenggelam di Asia Tenggara’ yang menyebut Atlantis berada di Sundaland? Keduanya pun menyebut bahwa kehidupan di Sundaland merupakan peradaban tinggi dunia.

Entahlah, kini impian terdekatku hanyalah bisa segera kembali ke Singkil untuk melihat langsung Singkil Kuno yang tenggelam. Ingin melihat dengan mata kepala sendiri — peradaban adi luhung nenek moyang Aceh dan bangsa Indonesia yang terendam dan seolah tak tersentuh — meski sekedar dari permukaan air laut. Ingin melihat sisa kejayaan yang bahkan mampu mengundang Firaun datang berniaga. (Kukuh Bhimo Nugroho)

No comment for Fir’aun dan Singkil Kuno yang Tenggelam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also likeclose